blambangan,

MINAK JINGGO DAN SEJARAH BLAMBANGAN (versi I)

23.40 SIMPANG suwir 0 Comments

Minak Jinggo - Kali ini kita akan membahas kisah Minak Jinggo dan Kerajaan Blambangan. Ada beberapa versi cerita yang mengisahkan putra Blambangan yang satu ini. Namun kali ini kita akan mencoba membahas salah satu versi yang diyakini penulis sebagai versi yang paling mendekati kebenaran sejarah dari beberapa sumber di internet.

Awal cerita bermula di istana kerajaan Majapahit dimana Ratu Suhita yang bergelar Ratu Ayu Kencono Wungu merasa resah akan serangan-serangan Kebo Marcue. Kebo Marcuet sendiri digambarkan sebagai mahluk manusia berkepala kerbau yang sakti dan tidak terkalahkan. Telah dicoba untuk membunuhnya dengan mengirimkan banyak pasukan, namun Majapahit tidak juga berhasil memusnahkan Kebo Marcuet.

minak jinggo, cerita damar wulan, blambangan, blambangan motor, umbul umbul blambangan, pura blambangan, raja blambangan, blambangan umpu, hindu di jawa, sejarah minak jinggo, legenda damar wulan, minak jinggo blambangan, makam minak jinggo, cerita damarwulan dan minakjingga, tari minak jinggo, minak jinggo dan damarwulan, pusaka minak jinggo, cerita legenda damarwulan, minak jinggo banyuwangi, cerita minakjinggo, cerita legenda damar wulan, sejarah minakjinggo
Pemeran Minak Jinggo dalam Karnaval
Raden Ayu Kencana Wungu sebagai ratu mengambil tindakan menggelar sayembara bahwa barang siapa yang mampu membunuh Kebo Marcuet akan mendapatkan hadiah diperbolehkan mempersunting Ratu Ayu dan menjadi Raja Majapahit. Sayembara dengan hadiah menggiurkan ini sampai di telinga Adipati Blambangan Bhre Wirabumi yang bergelar Minak Jinggo dan saat itu juga Minak Jinggo memutuskan untuk mengikuti sayembara tersebut.

Dengan Gadha (pentungan) Wesi Kuning-nya (besi kuning), Minak Jinggo berhasil mengalahkan Kebo Marcuet. Diceritakan pula bahwa siapapun yang dihadapkan pada gadha Wesi Kuning milik Minak Jinggo akan lemas dan ambruk dengan mudahnya. Walaupun begitu, Kebo Marcuet juga ternyata memiliki kesaktian sehingga mampu melukai beberapa bagian tubuh Minak Jinggo sehingga Minak Jinggo yang awalnya tampan rupawan menjadi cacat buruk rupa.

Melihat rupa fisik Minak Jinggo yang telah buruk itu Ratu Suhita atau Kencana Wungu ingkar janji dengan menolak pinangan Minak Jinggo. Tentu saja kondisi ini membuat Minak Jinggo marah dan melakukan penyerangan untuk mendapatkan haknya mempersunting Putri Ayu dan menjadi Raja Majapahit. Untuk menghadapi Pemberontakan Adipati Blambangan, Ratu Ayu kembali menggelar sayembara, barang siapa yang mampu membunuh Bhre Wirabumi atau Minak Jinggo akan diperkenankan mempersuntingnya dan menjadi raja di Majapahit.

Seorang pemuda bernama Dharma Sasongko yang selanjutnya sering disebut sebagi Damar Wulan adalah pemuda tampan yang bertugas mengurusi kuda-kuda Patih Lohgender, patih Majapahit masa itu. Dua putra Mahapatih tidak menyukai Damar Wulan, Layang Seto dan Layang Gumitir justru cendrung memusuhi dan sering melecehkan Damar Wulan karena iri dengan ketampanan dan ketenarannya. Patih Lohgender juga memiliki seorang putri bernama Anjasmoro yang menyukai Damar Wulan. Patih Lohgender sendiri lebih cendrung membela dua putranya karena Patih juga ingi dua putranya tenar dan menjadi kebanggaan Majapahit.

Layang Seto dan Layang Gumitir semakin membeci Damar Wulan ketika mendengar Damar Wulan diutus Ratu Ayu untuk pergi ke Blambangan dan membunuh Minak Jinggo karena itu berarti Damar Wulan memiliki potensi untuk bisa mempersunting Rata Ayu nantinya dan menjadi raja Majapahit. Damar Wulan akan semakin cemerlang sedangkan mereka berdua harus tunduk kepada pemuda yang selama ini mereka lecehkan. Maka mereka membangun rencana untuk menjegal langkah Minak Jinggo.

Telah terkenal ke seantero negeri tantang kehebatan Gadha Wesi Kuning Minak Jinggo, tahu akan hal itu Damar Wulan mendekati kedua selir Minak Jinggo yang bernama Dewi Wahita dan Dewi Puyengan yang mana keduanya dikisahkan berasal dari keluarga ningrat masing-masing di Bali. Karena ketampanan, keramahan dan sikapnya yang mempesona, akhirnya Dewi Wahita mau diminta mencuri Gadha Wesi Kuning Minak Jingga dan memberikannya kepada Damar Wulan dengan perjanjian yang sudah disetujuai semua pihak berupa Damar Wulan akan menikahi Dewi Wahita dan Dewi Puyengan setelah mengalahkan Minak Jinggo nantinya.

Sangat bisa ditebak bahwa Damar Wulan jadi tidak terkalahkan dengan Gadha Wesi Kuning di tangannya. Minak Jinggo mati di tangannya, lalu Damar Wulan memenggal kepala Minak Jinggo untuk dibawa ke Majapahit dan dijadikan sebagai bukti kepada Ratu Ayu bahwa dirinya telah berhasil membunuh Minak Jingga.

Di dalam perjalanan, di sebuah gunung, Damar Wulan dihadang Layang Seto dan Layang Gumitir dengan tujuan merebut kepala Minak Jinggo. Maunya kalau Layang Seto dan Layang Gumitir berhasil membunuh Damar Wulan dan merebut kepala Minak Jinggo, keduanya bisa menghadap Ratu Ayu dan mengaku bahwa mereka yang telah membunuh Minak Jinggo dengan bukti kepala Minak Jinggo yang ada di tangan mereka sehingga salah satu dari mereka akan mempersunting Ratu Ayu dan menjadi Raja di Majapahit.

minak jinggo, cerita damar wulan, blambangan, blambangan motor, umbul umbul blambangan, pura blambangan, raja blambangan, blambangan umpu, hindu di jawa, sejarah minak jinggo, legenda damar wulan, minak jinggo blambangan, mgunung gumitir banyuwangi, gunung kumitir, akam minak jinggo, cerita damarwulan dan minakjingga, tari minak jinggo, minak jinggo dan damarwulan, pusaka minak jinggo, cerita legenda damarwulan, minak jinggo banyuwangi, cerita minakjinggo, cerita legenda damar wulan, sejarah minakjinggo
Gunung Gumitir Banyuwangi

Namun khayalan indah itu tidak pernah menjadi kenyataan, yang ada justru Layang Seto dan Layang Gumitir mati di tangan Damar Wulan di atas gunung itu. Kini gunung tempat mereka bertiga berduel saling membunuh biasa disebut Gunung Gumitir karena Layang Gumitir mati di sana. Gunung Gumitir sendiri merupakan perbatasan antara Banyuwangi dan Jember.

Pembahasan lebih lanjut tentang Gunung Gumitir bisa dibaca di artikel (klik) Kota Banyuwangi.

Pada akhirnya Dharma Sasongko atau Damar Wulan menjadi Raja Majapahit, menikahi Ratu Ayu Suhita atau Ratu Ayu Kencana Wungu, Menikahi Anjasmoro, Menikahi Dewi Wahito dan Dewi Puyengan.
 
Minak Jinggo dan Sejarah Blambangan (versi II) telah kita bahas di artikel berikutnya. 

0 komentar:

Setelah membaca artikel di atas, pasti ada komentar yang ingin kamu sampaikan. Silahkan post komentar kamu. Saya tunggu..

Baca Juga