bisnis banyuwangi,

Bisnis Hobi 'Mahal' Aquascape Berkembang di Banyuwangi

01.43 SIMPANG suwir 0 Comments

aquascape tanpa tanaman, jenis tanaman air, jenis tanaman aquascape air tawar, jenis tanaman air untuk aquascape, cara menanam tanaman aquascape, jenis jenis tanaman aquascape,
Seorang peserta menyiapkan aquascape dalam lomba yang digelar Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi. Seni aquascape berkembang di Kabupaten Banyuwangi 5 tahun terakhir. Foto : Ahmad Suudi

Kesenian aquascape di Kabupaten Banyuwangi berkembang selama 5 tahun teakhir. Kini komunitas lokal yang menggelutinya, Aquascape Banyuwangi, memiliki 70 peserta yang aktif sebagai penghobi dan pebisnis. Mereka saling belajar bagaimana seni menata tanaman air itu dilakukan di dalam akuarium.

Kepada Simpang-suwir, Ketua Aquascape Banyuwangi Didik Hartono menceritakan pada tahun 2014 awal dirinya membuka kios aquascape, tidak ada pesanan lokal yang masuk. Justru dia banyak mengerjakan pesanan dari luar daerah. Sedangkan sejak Januari 2019 hingga sekarang dia sudah menerima 10 order aquascape full set dengan kisaran harga Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta.

"Pasar makin ramai, awal-awal yang buka gerai cuma saya. Sekarang ada 10 gerai yang melayani order aquascape di Banyuwangi, 5 di antaranya sudah berupa toko fisik," kata Didik di sela-sela acara pameran aquascape di halaman Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi, Senin 20 Mei 2019.

Pemilik toko aquascape di Lingkungan Cungking, Kelurahan Mojopanggung, Banyuwangi, itu menjelaskan yang paling sulit dalam aquascape adalah menentukan tema. Akan lebih mudah jika seniman aquascape dibiarkan berkreasi dengan memutuskan tema sendiri. Sebagian pembeli malah menyerahan perawatan aquascape di rumah mereka pada penjual. Sebagian lagi penghobi yang hanya beli komponen dan tanaman lalu minta dipandu menatanya di dalam akuarium.

jenis aquascape, jenis kayu aquascape, macam macam tanaman aquascape, perawatan aquascape, tanaman dalam air, tanaman untuk aquarium, aquarium tanaman, jenis hobi yang bermanfaat
Ketua Aquascape Banyuwangi Didik Hartono di lokasi lomba dan pameran aquascape Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi. Seni aquascape berkembang di Kabupaten Banyuwangi 5 tahun terakhir. Foto : Ahmad Suudi

Didik mengatakan jumlah pelanggan yang membeli bahan untuk diinstall sendiri jauh lebih banyak daripada pembeli yang memesan full set, hingg 4 kali lipatnya. Namun penjual rata-rata sudah memaklumi dan melayani berbagai pertanyaan penghobi, karena kesenian yang ditemukan Takashi Amano dari Jepang itu termasuk bisnis hobi dan minat khusus.

Harga 1 unit aquascape berukuran 1 meter, kata Didik bisa mencapai Rp 11 juta. Sementara untuk ukuran kecil 30 X 20 X 25 harganya di kisaran Rp 500 ribu, tergantung komponen yang dimasukkan. Minat ini menjadi hobi yang mahal karena harga beragam tanaman hidup yang dipakai, yang dipengaruhi seberapa suit tanaman itu dibudidayakan.

"Beda dengan hiasan plastik, aquascape 100 persen tanaman hidup. Jadi sebetulnya ini berkebun di dalam air, yang tanamannya kepanjangan dipotong, tanaman juga bisa ditambah atau dikurangi," ujarnya.

Tanaman air yang biasa digunakan rumput Moss yang harganya per cup puding Rp 5 ribu, Bucephalandra asli Kalimantan Rp 5 ribu, dan Anubias berdaun bundar yang berharga 20 ribu sampai jutaan rupiah per pohon. Sedangkan benda mati yang wajib dimasukkan adalah pasir. Semua jenis pasir bisa masuk asalkan bukan pasir pantai yang memiliki kadar keasinan.

jenis hobi yang bermanfaat, tanaman yang bisa hidup di air, pengusaha sukses, jenis tanaman aquascape tanpa co2, bisnis unik, hobi yang menghasilkan uang, bisnis dari hobi, bisnis mahasiswa


Pasir yang biasa dipakai adalah Pasir Malang, Pasir Angel, dan Pasir Silika. Sedangkan komponen kayu yang dipakai Kayu Senggani, Kesirem dan Rasamala yang harganya Rp 20 ribu sampai ratusan ribu rupiah. Tapi sebetulnya semua jenis kayu bisa dipakai untuk aquascape asalkan tidak mudah lapuk, karena akan terus terendam dalam air.

"Tujuannya membuat ekosistem secantik mungkin, tidak harus persis seperti di alam asli, okus pada penataan tanaman," kata Didik lagi.

Tema aquascape yang paling utama adalah jungle yang penuh tanaman tegakan, natural style dimana rumputnya yang lebih banyak, dan iwagumi hanya pakai sedikit tanaman, dengan instalasi batu dan pasir yang mendominasi. Sementara varian lain sangat banyak yang merupakan turunan dari 3 tema tersebut.

Program Studi (Prodi) Ilmu Perikanan Untag Banyuwangi berencana memasukkan mata kuliah aquascape agar mahasiswa yang lulus memiliki keterampilan tersebut. Kepala Prodi Ilmu Perikanan Untag Banyuwangi Mega Yuniartik mengatakan kampus menilai kebutuhan masyarakat pada aquascape semakin besar sehingga merekaberusaha melayani dengan menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang mampu mengisi kebutuhan itu.

tanaman untuk aquarium, aquarium tanaman, jenis hobi yang bermanfaat, tanaman yang bisa hidup di air, pengusaha sukses, jenis tanaman aquascape tanpa co2, bisnis unik, hobi yang menghasilkan uang
Aquascape gaya iwagumi yang dibuat siswa SMA Negeri 1 Jember di lomba dan pameran aquascape Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi. Foto : Ahmad Suudi

"Menilai ini dibutuhkan masyarakat, kami bertujuan mahasiswa keluar sudah dilengkapi kemampuan aquascape. Masyarakat adalah pengguna lulusan kita, jadi kita berusaha menyesuaikan, peluang di bidang itu juga besar," katanya.

Sementara di Jember, sudah ada SMA yang sudah memasukkan aquascape dalam mata pelajarannya. SMA Negeri 1 Jember membekali keterampilan itu melalui mata pelajaran Prakarya Kewirausahaan pada siswa kelas 10. Sebagian siswanya datang dengan inisiatif sendiri mengikuti lomba dan pameran aquascape di Untag Banyuwangi.

Muhammad Naufal (17) dan kawan-kawannya di kelas 11 mengaku setahun terakhir menekuni kesenian aquascape yang mereka dapat di kelas 10 dahulu. Bahkan mereka sudah mendapatkan honor dari guru pengampu mata pelajaran Prakarya Kewirausahaan karena sering mendampingi dalam pembelajaran pada adik-adik kelas mereka.

"Gurunya belajar ke komunitas, Jember Aquascape Community, lalu diajarkan ke siswa," kata siswa yang membuat tema forest dan iwagumi dalam mengikuti lomba di Untag Banyuwangi itu.

Reporter : Ahmad Suudi

0 komentar:

Setelah membaca artikel di atas, pasti ada komentar yang ingin kamu sampaikan. Silahkan post komentar kamu. Saya tunggu..

[kabupaten banyuwangi],

Rangkul komunitas jadi jurus Banyuwangi kembangkan pariwisata

12.39 SIMPANG suwir 0 Comments


gandrung pantai, gandrung pantai banyuwangi, pulau tabuhan, strategi wisata banyuwangi, strategi pariwisata banyuwangi, strategi wisata anas, strategi anas, program anas
Penari Gandrung bergaya di Pulau Tabuhan Banyuwangi. Foto : Ahmad Suudi

Merangkul komunitas menjadi jurus Kabupten Banyuwangi mengembangkan pariwisata di tahun 2019. Hal itu sudah dilontarkan beberapa kali di awal tahun 2019 oleh orang nomor 1 di kabupaten ujung timur Pulau Jawa itu, Abdullah Azwar Anas.

Strategi pariwisata yang diambil menggelar even-even yang melibatkan komunitas yang akan membawa komunitas lain dengan hobi dan minat yang sama datang sendiri ke Banyuwangi menyelenggarakan kegiatan masing-masing. Misalnya pada komunitas sepeda dengan menggelar Women's Cycling Challenge, Sabtu 27 April 2019.

"Kita rangkul komunitas. Mungkin peserta tidak sampai 2 ribu, tapi mereka konsisten. Komunitas ini akan terus bergerak, mereka akan mengajak kawan lainnya kemari," kata Bupati berusia 44 tahun itu.

Keuntungan lain menggelar even untuk komunitas kecil adalah, lebih sedikitnya sumber daya yang dikeluarkan Pemerintah Daerah. Misalnya acara Women's Cycling Challenge yang membutuhkan panitia penyelenggara petugas protokol dan dinas terkait saja, begitu juga biaya yang harus dikeluarkan lebih kecil daripada even-even lain.

bupati banyuwangi, program bupati banyuwangi, program bupati anas, program anas, strategi anas, strategi bupati anas, strategi wisata anas, strategi pariwisata anas
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Foto : Ahmad Suudi

Anas mengatakan strategi merangkul komunitas terbukti bekerja dalam meningkatkan jumlah wisatawan yang datang ke Banyuwangi. Misalnya saat jumlah wisatawan turun secara nasional karena harga tiket pesawat yang naik awal 2019, penurunan jumlah wisatawan di Banyuwangi hanya sedikit.

Sebelumnya tiket pesawat sekitar Rp 600.000 untuk terbang Banyuwangi - Jakarta. Namun pada akhir April harganya mencapai sekitar Rp 1.500.000.

Dari catatan aplikasi tiket destinasi online Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, pada tahun 2018 kunjungan wisatawan rata-rata 1.600 per hari. Sedangkan seminggu terakhir April 2019, rata-rata kunjungan wisatawan 1.300 per hari.

sunrise of java, matahari terbit jawa, matahari terbit di banyuwangi, pantai sunrise jawa, pantai sunrise banyuwangi, sunrise bangsring, matahari terbit pantai bangsring
Seorang pengunjung mengabadikan Matahari terbit di Pantai Bangsring Banyuwangi. Foto : Ahmad Suudi

"Buktinya kita bertahan selama 7 tahun, sementara daerah lain sepi karena harga tiket pesawat naik," kata Anas.

Pakar marketing Yuswohady mengatakan Banyuwangi memiliki konten atraksi pariwisata yang sangat bagus. Mengenai penurunan jumlah wisatawan per hari, diakuinya itu dampak dari kenaikan tiket yang berlaku secara nasional.

Dia tetap mendorong Pemkab Banyuwangi untuk mulai membangun infrastruktur internet of things untuk menyongsong era Tourism 4.0. Pasalnya kini di Eropa telah dikembangkan kecerdasan buatan, Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality untuk keperluan pariwisata.

"Yang saya lihat challangenya 4.0. Banyuwangi itu kan hebat sekarang, 5 tahunan lagi kalau inovasinya tidak lanjut takutnya akan melambat terus," kata Yuswohady setelah memberikan seminar di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Senin 29 April 2019.



Reporter : Ahmad Suudi


0 komentar:

Setelah membaca artikel di atas, pasti ada komentar yang ingin kamu sampaikan. Silahkan post komentar kamu. Saya tunggu..

biaya ke banyuwangi,

Harga Tiket Pesawat Naik Surutkan Jumlah Wisatawan Banyuwangi

20.59 SIMPANG suwir 0 Comments

citilink, penerbangan banyuwangi, banyuwangi-jakarta, banyuwangi ibukota, ibu kota, rute banyuwangi - surabaya, rute pesawat banyuwangi, tiket pesawat banyuwangi, harga tiket ke banyuwangi, biaya ke banyuwangi
Pesawat Citilink mendarat di Bandara Banyuwangi dari Jakarta. Foto : Ahmad Suudi

Harga tiket pesawat yang naik hingga lebih dari 2 kali lipat menyurutkan jumlah wisatawan di destinasi-destinasi Banyuwangi. Berlangsung dari bulan November tahun 2018 hingga kini, harga tiket pesawat belum nampak akan turun.

Kunjungan wisatawan ke semua destinasi dalam aplikasi online ticketing Pemkab Banyuwangi memperlihatkan penurunan. Pada tahun 2018 kunjungan wisatawan ke Banyuwangi sebanyak rata-rata 1.600 per hari dan semakin tinggi pada week end. Sedangkan seminggu terakhir, rata-rata kunjungan wisatawan 1.300 per hari dan Minggu 28 April 2019, jumlahnya 1.527 wisatawan.

"Sekarang kami belum berani mematok target jumlah wisatawan. Karena ada faktor di luar kami, seperti harga tiket pesawat, tidak bisa diprediksi," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, Muhammad Yanuar Bramuda, Senin 29 April 2019.

Budi Candra warga Banyuwangi yang akan berkunjung ke kampung halamannya di Padang, Sumatera Barat, mengaku kaget saat hendak pesan tiket pesawat online. Pulang kampung sebelumnya dia hanya membayar sekitar Rp 600.000 untuk terbang Banyuwangi - Jakarta. Namun kini harganya mencapai sekitar Rp 1.500.000, belum termasuk perjalanan menuju Padang dari Jakarta.

Bila ambil rute penerbangan Surabaya - Palembang harga tiketnya sekarang Rp 1.490 ribu, padahal dulu hanya Rp 800.000. Bahkan kalau dari Banyuwangi ke Palembang harga tiketnya Rp 2,8 juta, dimana harus transit selama 3 hingga 7 jam.

"Sementara ini karena terpaksa, tetap memilih pesawat untuk pulang kampung. Karena harganya sangat mahal," kata Budi.

Di sisi lain meski jumlah kunjungan wisatawan ke Banyuwangi turun, pakar marketing Yuswohady menilai daya tarik Banyuwangi tetap tinggi. Dikatakannya rangkaian Banyuwangi Festival merupakan konten yang bagus di tengah tantangan melambungnya biaya transportasi udara.

yuswohady, yuswohadi, seminar yuswohady, penulis yuswohady, penulis millenials kill everithing, milenial kill everithing, buku marketing, milenial
Penulis buku Millenials Kill Everithing, Yushohady, di Pendopo Sabha Swagata Blambangan Banyuwangi, Senin 29 April 2019. Foto : Ahmad Suudi


"Ini melambat karena faktor airlines kan, tapi secara konten masih bagus. Yang saya lihat challange-nya di tourism 4.0." ujar Yuswohady di Banyuwangi, Senin 29 April 2019.

Dia mengatakan masalah tingginya tiket pesawat hanya akan terjadi sementara waktu karena pemerintah tengah berupaya menurunkannya. Tantangannya justru menyelenggarakan pengalaman tourism 4.0 bagi wisatawan yang datang yang 5 hingga 10 tahun mendatang akan diisi generasi besar milenial.

Sebagai contoh dia menjelaskan adanya teknologi Augmented Reality (AR), Virtual Reality (VR), kecerdasan buatan dan Internet of Thing (IoT) yang sudah diterapkan di Eropa. Mula-mula Banyuwangi didorongnya menyiapkan infrastruktur untuk layanan wisata tersebut.

"Banyuwangi itu kan hebat sekarang, 5 tahunan kalau inovasinya tidak lanjut takutnya akan melambat terus. Tapi yang kita hadapi generasi milenial, tidak hanya pada konten, tapi juga di sisi digitalnya," kata pri yang juga menulis buku tentang pasar muslim ekonomi menengah itu.


Reporter : Ahmad Suudi


0 komentar:

Setelah membaca artikel di atas, pasti ada komentar yang ingin kamu sampaikan. Silahkan post komentar kamu. Saya tunggu..

banyuwangi kab,

Yuswohady Dorong Banyuwangi Siapkan Infrastruktur Tourism 4.0

06.44 SIMPANG suwir 0 Comments

tari gandrung, agro expo, tourism 4.0, tari banyuwangi, banyuwangi dance, gandrung dance, banyuwangi tourism 4.0, ecotourism, culture tourism
Tari Gandrung menyemarakkan pembukaan Festival Agro Expo Banyuwangi tahun 2019. Rangkaian Festival Banyuwangi menjadi salah satu andalan daerah di ujung timur Pulau Jawa itu untuk mendatangkan wisatawan. Foto : Ahmad Suudi

Pakar marketing Yuswohady mendorong Banyuwangi mulai menyiapkan infrastruktur untuk pembangunan layanan Tourism 4.0 sebagaimana yang telah di terapkan di Spanyol, Perancis dan Italia. Dia mengatakan Banyuwangi telah menunjukan berbagai inovasi, terutama dalam upaya mendatangkan wisatawan.

Meski sekarang sedang ada penurunan jumlah wisatawan, kata Yuswohady, hal itu disebabkan melonjaknya harga tiket pesawat yang mempengaruhi jumlah kunjungan wisatawan secara nasional. Meskipun inovasi pariwisatanya dianggap berhasil, Banyuwangi harus membuat inovasi baru lagi, terutama yang millenial friendly.

"Banyuwangi itu kan hebat sekarang, 5 tahunan kalau inovasinya tidak lanjut takutnya akan melambat terus. Ini melambat karena faktor airlines kan, tapi secara konten masih bagus," kata Yuswohady setelah mengisi seminar di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Senin 29 April 2019.

Dia mencontohkan konten penarik wisatawan seperti Festival Agro Expo yang digelar minggu terakhir April 2019 dan selalu banjir pengunjung, dinilainya sangat bagus. Apalagi kali ini digelar di dataran tinggi Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, yang juga menjadi bagian wilayah produsen durian di Banyuwangi.

Namun tidak hanya konten, wisatawan kini perlu penghantar dari perangkat digital yang bisa mereka akses. Misalnya maps dengan itenari yang lengkap akan informasi kuliner, destinasi, tempat tinggal sementara, hingga artificial intellegen (AI - kecerdasan buatan), internet of things (IoT) dan augmented reality (AR - penyatuan tampilan digital dan realitas).

"Tapi yang kita hadapi generasi milenial, tidak hanya pada konten, tapi juga di sisi digitalnya. Tapi bagaimana digital itu bisa menganerage destinasi yang ada," ujar Yuswohady.

Infrastruktur digital yang harus disiapkan Banyuwangi untuk mendukung smart destination. Menyesuaikan pada kondisi milenial yang tidak punya banyak duit, velue oriented atau sangat mengutamakana nilai, juga mengutamakan kecepatan dan convenien.

Generasi milenial adalah mereka yang lahir pada tahun 1981 sampai 1997, atau hingga tahun 2000 versi Yuswohady. Mereka dinilai akan menjadi konsumen besar berbagai produk, layanan dan industri, yang memiliki karakter sangat berbeda dari generasi-generasi sebelumnya.

yuswohady, buku millennials kill everything, millenial kill everything, milenials, generasi milenial, wisata banyuwangi, seminar wisata banyuwangi
Yuswohady penulis buku Millennials Kill Everything mengatakan Banyuwangi harus menjemput era berikutnya dengan mengembangkan konsep Tourism 4.0. Foto Ahmad Suudi

Perilaku generasi milenial, kata dia, dalam mencari destinasi berbeda, mereka lebih self service, tidak mengandalkan agen wisata, mencari referensi dan review sendiri dari gawai masing-masing. Bahkan mereka tidak terikat pada brand, misalnya brand hotel, dan lebih melihat review dari pengunjung yang pernah mengindap di masing-masing hotel.

"Mereka membuka aplikasi Traveloka, menyesuaikan pencarian dengan budget yang dimiliki karena mereka tidak memiliki banyak uang. Lalu melihat rating dan review baru memutuskan menginap di hotel mana, tidak memandang brand hotelnya," paparnya.

Tahun 2017 generasi milenial telah berusia 17 hingga 37 tahun. Tahun itu pula Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, milenial berjumlah lebih dari 42 juta jiwa, belum termasuk yang berusia 17, 18, 19, 35, 36, dan 37 tahun. Jumlah itu setara 33 persen dari jumlah angkatan kerja 128 juta jiwa di Indonesia.

Meski milenial bukan generasi yang memegang banyak uang, namun 5 hingga 10 tahun kemudian, kata Yuswohady, mereka akan menempati jabatan-jabatan bergaji tinggi yang ditinggalkan generasi sebelumnya. Jumlahnya yang sangat besar juga membuat generasi ini tidak bisa diremehkan, dimana tahun 2025 nanti 75 persen angkatan kerja di bumi adalah generasi milenial.

"Angkatan kerja ini kan yang mampu beli, mereka pasar," pungkas Yuswohady.


Reporter : Ahmad Suudi

0 komentar:

Setelah membaca artikel di atas, pasti ada komentar yang ingin kamu sampaikan. Silahkan post komentar kamu. Saya tunggu..

buku milllenials kill everithing,

Bakal Jadi Pasar Besar, Milenial Tidak Suka Produk Lama

21.09 SIMPANG suwir 0 Comments

buku millennials kill everything, millenial kill everything, yuswohady, milenials, generasi milenial, pasar milenial, pasar millenial, millennial market

Generasi milenial Banyuwangi. Foto : Ahmad Suudi
Generasi milenial akan menjadi pasar ekonomi yang besar pada 5 hingga 10 tahun mendatang karena mengisi sebagian besar angkatan kerja, termasuk jabatan-jabatan tinggi bergaji besar. Tahun 2025 nanti 75 persen angkatan kerja akan diisi milenial, yang akan menjadi pembeli-pembeli dalam jumlah besar, dengan gaji yang juga besar.

Namun mereka tidak berminat pada produk lama yang identik dengan ayah dan kakek mereka. Kondisi itu yang berusaha dijelaskan Yuswohady dalam bukunya Millennials Kill Everything, yang diseminarkannya di depan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan masyarakat Banyuwangi, di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Banyuwangi, Senin 29 April 2019.

Salah satu ciri generasi milenial adalah tidak mau disamakan dengan generasi tua, termasuk pada produk yang biasa digunakan. Banyak brand yang dianggap sudah identik dengan baby boomers dan Gen X dihindari oleh generasi milenial, seperti Harley Davidson, Sosro, Aqua, dan Garuda.

"Mileial itu cirinya dia tidak mau disamakan dengan generasi tua, karena moge (motor gede) itu adalah tumpangannya nggkong gue atau papah gue, itu tu malu dia. Milenial itu tidak punya connection dengan brand-brand lama," ungkap Yuswohady, memaparkan hasil survey dan risetnya.

buku millennials kill everything, millenial kill everything, yuswohady, milenials, generasi milenial, pasar milenial, pasar millenial, millennial market
Penulis buku Millennials Kill Everything Yuswohady, di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Banyuwangi, Senin 29 April 2019.
Hasilnya pasar mereka dengan sangat mudah bisa diambil oleh brand baru, seperti Aqua oleh Le Minerale dan Sosro oleh Teh Pucuk Harum. Dalam buku yang ditulis 4 orang itu dijelaskan secara rinci 50 produk, layanan dan industri yang terbunuh karena ditinggal milenial, belasan di antaranya dijelaskan Yuswohady di Banyuwangi.

Itu semua karena kecenderungan milenial yang menyukai kepraktisan, kesederhanaan, self service, kebebasan, kecepatan, dan multitasking. Contoh lain masalah tempat dan waktu kerja yang dituntut bebas oleh milenial, hingga co working space di kota-kota besar penuh mereka kuasai.

Generasi baby boomers adalah mereka yang lahir pada tahun 1946 - 1964, selanjutnya ada generasi X yang lahir pada tahun 1965 - 1980, dan milenial yang lahir di tahun 1981 - 1997, atau hingga tahun 2000 versi Yuswohady. Berarti saat ini semua generasi milenial sudah dalam usia kerja, di atas 15 tahun.

Perpindahan sifat dan perilaku dari baby boomers ke generasi X, kata dia, bersifat linier inkremental atau bentuk kelanjutan sehingga perubahannya tidak terlalu drastis. Sementara perpindahan dari generasi X ke milenial, terjadi disertai patahan garis grafik perubahan perilaku dan sifat dari generasi ke generasi.

buku millennials kill everything, millenial kill everything, yuswohady, milenials, generasi milenial, pasar milenial, pasar millenial, millennial market
Buku Millennials Kill Everything. Foto : Ahmad Suudi

Artinya perubahan perilaku dan sifat milenial dari generasi-generasi sebelumnya sangat besar. Hingga menimbukan guncangan besar dalam berbagai aspek kehidupan bersama, terutama pada pemilik brand lama karena berubahnya pola konsumsi milenial yang mulai menguasai populasi masyarakat.

Dari sudut pandang pengusaha, perubahan ekstrim itu menimbulkan goncangan pada posisi produk, layanan, dan industri milik mereka yang selama ini duduk aman di singgasananya. Termasuk perubahan dalam cara bersosial, dunia kerja, komunikasi, bahkan pada kebiasaan makan sehari-hari yang kesemuanya, oleh Yuswohady, dianggap sebagai efek milenial disruption.

"Generasi milenial kayanya karena menguasai angkatan kerja, ketika dia nggak suka nggak makai kan, dan ketika nggak makai, karena jumlahnya gede, brand itu akan mati," ujar pria yang juga menulis buku bertema pasar muslim ekonomi menengah itu.

Tahun 2017 generasi milenial telah berusia 17 hingga 37 tahun. Yuswohady mengatakan sebagian besar mereka belum memiliki pekerjaan dengan gaji besar sehingga bisa dikatakan miskin. Namun dia memperkirakan 5 hingga 10 tahun lagi jabatan-jabatan tinggi bergaji besar akan mereka kuasai sehingga mengubah milenial menjadi generasi yang kaya.

buku millennials kill everything, millenial kill everything, yuswohady, milenials, generasi milenial, pasar milenial, pasar millenial, millennial market
Yuswohadi menyampaikan seminar pada ASN dan masyarakat Banyuwangi di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Banyuwangi, Senin 29 April 2019.
Tahun itu pula tercatat dalam laporan Badan Pusat Statistik (BPS), milenial berjumlah lebih dari 42 juta jiwa, belum termasuk yang berusia 17, 18, 19, 35, 36, dan 37 tahun. Jumlah itu setara 33 persen dari jumlah angkatan kerja 128 juta jiwa di Indonesia.

Mereka yang menghindari brand lama akan mencari brand baru yang cocok, dan menjadi kesempatan untuk brand baru masuk mengambil porsi di pasar. Caranya dengan memahami kecenderungan milenial dari hasil riset dan survei yang telah disediakan berbagai sumber.

Yuswohady melanjutkan setelah kaya dan mampu membeli Harley sekalipun, genernasi milenial tidak akan membelinya karena mereka tetap menghindari produk yang identik dengan generas-generasi sebelumnya. Maka era ini menjadi kesempatan bagi brand-brand baru seperti Le Minerale dan Teh Pucuk Harum menyediakan diri sebagai brand yang milenial friendly, dan merebut pasar brand lama.


Reporter : Ahmad Suudi

0 komentar:

Setelah membaca artikel di atas, pasti ada komentar yang ingin kamu sampaikan. Silahkan post komentar kamu. Saya tunggu..

Baca Juga